sebuah istilah dari prancis yg maknanya kurang lebih adalah sebuah kejadian diluar kontrol yg memaksa suatu kegiatan tidak bisa dilaksanakan sebagaimana mestinya.
hari ini, tanpa dinyana, corona membuat semua sendi berkehidupan menjadi lumpuh. tak terkecuali urat nadi pendidikan.
kebijakan slowdown yg diambil pemerintah memaksa guru untuk berpikir dan bekerja keras untuk tetap bisa menjalankan pembelajaran. Opsi terbaik yg disodorkan kepada para guru adalah online learning.
tapi belum genap sepekan kelas online dadakan ini bergulir, banyak nada sumbang yang mulai muncul. emak-emak puyeng karena harus membagi uang belanja dengan uang tambahan kuota buat si kecil. bapak-bapak juga tak kaalah repot karena harus membantu anak mereka yang di SD mengupload tugas yg diberikan. dan tentu saja…yang paling lantang teriaknya adalah para siswa sendiri. mereka merasa kewalahan dengan tumpukan tugas yang bertubi-tubi setiap hari. semua mapel ada tugas dengan deadline yang menyiksa!
lalu bagaimana dengan bapak ibu guru? sama saja…sebagian besar dari beliau merasa gagap bin gugup dengan mode belajar baru ini. saat d bangku kuliah, model belajar begini tidak pernah beliau dapatkan. kalupun ada guru muda yang sudah pernah melakukanya, mereka tk cukup pengalaman untuk lincah memainkanya.
kegagapan guru dan pihak pengelola sekolah terhadap situasi ini sangat kentara jika dilihat dari amburadulnya penataan ‘kelas online’ yg mereka kelola. it seems that they just
simply move the offline stuffs to online one….caranya? buat tugas, upload, minta anak kerjakan, kasih deadline pengumpulan tugas dan boooom! “I have an online class”
jika benar mode kelas online adalah sesederhana seperti yg demikian mka saya jamin tak banyak anak cerdas yg bisa dihasilkan dari kelas macam begituan. apalagi pada anak usia SMP ke bawah. they need more than that! mereka butuh panduan, bimbingan, dan juga arahan.
in short, dua pekan ini akan menjadi pelajaran berharga untuk semua guru di Indonesia raya.
jika kemarin kita beranggapan “buat apa sih online2 gitu..wong tiap hari bisa ketemu di sekolah” maka hari ini keadaan memaksa kita untuk belajar mengenal kelas online dengan baik.
jika masih ada yang menganggap kelas online adalah fiksi ilmiah ala holywood, maka hari ini kita dipaksa menerima kenyataan bahwa kelas online itu ada dan sangat berguna.
14 hari ini kita semua, para guru, sedang dalam DIKLAT kelas daring. bukan untuk kenaikan pangkat, bukan untuk sertifikasi, bukan pula untuk sekedar penelitian bahan skripsi atau thesis. Tapi benar-benar learning by doing, belajar sembari melakukanya agar kita bisa tetap menjadi ‘guru’ yang baik bagi anak didik kita apapun kondisinya.
untuk rekan guru sejawat saya ucapkan selamat belajar…jangan lupa bagikan pengalaman panjenengan dengan kawan lain….tetap semangat…tetap sehat dan bahagia
salam
Aris