Site Overlay

Psikis sosial yang mulai sakit

Tempo hari dalam update status saya sudah cukup menjelaskan bagaimana posisi logika dan agama dalam penyikapan wabah yang sedang bersama-sama kita rasakan. Namun sayang, saya melihat informasi dan arahan dari pemerintah untuk waspada berubah menjadi ketakutan berlebih yang justru cenderung merusak.

Sebut saja bagaimana perlakuan sebagian masyarakat yang benar2 kalap dengan hantu Corona sehingga mengikis sisi kemanusiaan mereka. Ada dokter yang ditolak pulang, ada perawat yang terpaksa pindah kos kosan karena dianggap sebagai “pembawa wabah”!

Bisa dibayangkan betapa sedih dan nelangsanya hati mereka…setelah berjibaku menangani pasien yang perlu perawatan, mereka harus menelan pahit penolakan orang terdekat mereka!tetangganya!ibu bapak kos nya!

kenapa ini bisa terjadi? karena logika mereka mengalahkan kepasrahan dan iman mereka pada yang maha kuasa! mereka jadi manusia kaku….kasar!

Sudah saya sampaikan pada status sebelumnya, logika dan agama harus digunakan proporsional. jika logika terlalu mengokupansi pemikiran kita,maka dengan mudahnya kita akan seperti robot terprogram yang hanya bisa mengetahui bahasa ‘ya’ dan ‘tidak’, diam atau melawan, atau kemungkinan lain yang sifatnya hitam dan putih.

Terlalu mengandalkan akal dalam mengambil tindakan seringkali berujung tindakan ekstrim yang tidak peka rasa humanisme, tidak fleksibel, kaku!

Mungkin yang di benak mereka adalah tenaga medis=carier corona=bahaya=amankan diri=jauhkan/hilangkan ancaman bahaya.

Sederhana, logis, tapi sangat primitif! Hidup bermasyarakat tidak seharusnya begitu! ada banyal pertimbangan lain. tidak bisa linier seperti itu!

karena itulah agama, doa, iman, dan nilai rasa dalam diri kita diperlukan. denganya, kita jadi lebih bisa memaklumi, dan berbaik sangka atas hal2 seperti wabah sekarang ini.

Seharusnya pikiran ini diajak untuk sesekali berwisata ke ranah rasa, empati, dan semacamnya. berbaik sangkalah bahwa mereka tenaga medis pasti tau protap dan juga SOP sterilisasi atas diri mereka sehingga ketika kembali, mereka sudah dalam keadaan bersih dari virus…..loh tapi? kan bisa saja masih ada yang terlewatkan dan menempel ditubuh mereka!…….nah inilah yg namanya ucapan beraroma gendeng paranoid yg berlebihan. Jika mengalami gejala seperti ini, saya sarankan anda mulai menghubungi psikiater langganan anda!…ucapan rewel yg ndak punya empati samasekali dengan pejuang2 kesehatan.

Ada istilah khusus untuk orang paranoid berlebihan terhadap infeksi2 an begini…namanya Mysophobia. semua yg ada di sekitarnya dianggap ancaman laten terhadap keselamatanya!

Makanya, ndak usah nemen2 kalau mikir tentang virus Corona ini…asalakan usaha pencegahan audah dilakukan maksimal, serahkan sisanya kepada Tuhan yang mengatur kapan kita dipanggil menjemput ajal.

Tetaplah bermasyarakat secara sehat! bukan hanya sehat lahir dan jasmaninya namun juga sehat secara ruhiyahnya. tetap ramah dengan tetangga…tetaplah belanja di pasar dengan aman sesuai anjuran kesehatan…tetaplah menjadi bagian dari masyarakat walu dengan jarak aman.

Social distancing bukan dimaknai menarik diri dari kehidupan sosial namum saling berkasih sayang dalam jarak yang aman.

sungguh saya mulai merasakan psikologi sosial kita mulai sakit…Corona sudah benar benar menjadi ancaman kesehatan fisik kita, jangan sampai dia juga membunuh rasa sosial kemanusiaan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *