“Ikatlah unta itu”
ada sebuah cerita menarik zaman dulu yang seringkali dijadikan hujjah tentang makna tawakal.
cerita tentang seorang sahabat Nabi Muhammad yang mendapatkan teguran dari beliau karena tidak menambatkan untanya dengan dalih berserah diri kepada takdir Allah.
banyak ulama bersepakat bahwa kisah ini adalah gambaran yg cetho welo welo tentang hubungan taksir dan usaha manusia. keduanya seiring sejalan dan tidak berat sebelah….
nasehat atau teguran Nabi Muhammad benar-benar menunjukkan kearifan dan Nubuwah beliau. beliau secara tersirat menunjukkan bahwa logika dan agama tidak perlu dipertentangkan! kenapa? karena dalam banyak kalam ilahi, sang maha pencipta berulangkali mengajak manusia untuk menggunakan akalnya untuk memahami kemahakuasaan Tuhan rabb semesta Alam.
lalu bagaimana urutan tawakal dan usaha logis?
sebagaimana cerita tentang unta tadi, lakukan usaha logis semaksimal mungkin lalu serahkan semua kepada takdir Allah….sekali lagi saya ulangi….lakukan USAHA MAKSIMAL…jangan sok2 an jadi yang paling beriman dan dekat dengan sang pencipta sebelum kita berusaha maksimal!
terus maksud usaha logis itu yang gimana?
mari kita pahami lagi cerita unta tadi. untuk memastikan keamanan si unta, lazimnya seseorang akan mengikatnya di pohon atau hal lain.
apakah harus diikat di pohon? dalam konteks itu jawabanya “YA”….karena mungkin setting ceritanya hanya memungkinkan untk itu. dalam konteks lain, bisa jadi opsinya adalah dimasukkan kandang, dititipkan kawan atau ‘petugas parkir’ unta…atau hal logis lain yg bisa diusahakan…
namun jangan lupa , usaha logis yang dilakukan juga tidak boleh sembrono, wgois dan bahkan berpotensi melanggar norma aturan sosial dan apalagi aturan Agama….jangan pula parkir unta di dalam masjid! itu namanya gagal pikir!
lha terus kalau kasus Corona ini bagaimana baiknya?
jawabanya jelas! Ikatlah unta ituitu lalu bertawakllah!
selamat siang
stay safe, stay alert!