Sebagaimana sudah diperkirakan, Corona memaksa sekolah-sekolah untuk memperpanjang masa belajar di rumah…it means more time for teachers and students to experience and explore online learning.
Jika minggu awal kemarin banyak keluhan yang muncul baik dari guru ataupun murid, maka perpanjangan masa belajar di rumah juga akan berpotensi menambah keluhan yang muncul…atau sebalikngya, bisa menambah optimisme terhadap penggunaan tools kelas moda daring.
kenapa bisa menambah optimisme? karena baik guru maupun siswa mulai “terbiasa” dengan pembelajaran model daring ini. kalau pakai bahasa psikologi anak muda, guru dan murid sudah mulai move on dari shock yang mereka terima karena “kebaruan” yang mereka hadapi. mereka sudah melewati tahapan “denial” pada kenyataan kelas online yang tak terelakkan lagi.
nah…jika guru sudah mulai lincah menggunakan dan mengatur kelas online yang mereka selenggarakan maka saatnya kini untuk fokus pada siswa.
hal yang paling sering jadi hambatan siswa pada kelas online adalah kemampuan mereka untuk mengatur waktu dan ritme belajar mereka.
tanpa kehadiran guru secara fisik, atmosfer belajar menjadi lebih longgar dari biasanya. tidak ada guru yang setiap saat mengawasi, tidak pula ada guru yang setiap saat mengingatkan mereka untuk fokus pada pelajaran atau tugas yang mereka hadapi. kalupun ada bimbingan, tentu dengan intensitas dan kualitas yang beda dari kelas offline.
di titik inilah, kemandirian siswa untuk belajar benar-benar diperlukan. walaupun sambil rebahan, tanpa seragam, atau bahkan tanpa harus mandi (tenang saja….mode online tidak akan mampu mentransmisi aroma tubuh yang telat mandi…), mereka harus bisa memaksa dirinya untuk tetap belajar.
kalau masalah kemandirian belajar, usia sepertinya tidak berkorelasi positif terhadap skill ini. yang sudah usia SMA belum tentu lebih bisa mandiri dalam belajar jika dibandingkan dengan ang usia SMP…kenapa? karena its all about self awareness. kesadaran mental yang dibangun dari kebiasaan.
karena itulah, masa belajar di rumah kali ini sepertinya bisa menjadi blessing in disguise. jadi semacam katalisator untuk memacu mereka menjadi autonomous learner. pembelajar mandiri yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai siswa.
sudah saatny siswa, yang katanya milenial, bisa memilah kapan waktunya main PUBG, kapan masuk kelas online, kapan facebook an, kapan mengumpulkan tugas, dan juga kapan kembali rebahan untuk mengembalikan stamina.
selamat pagi
selamat belajar sambil rebahan