Site Overlay

Catatan Pendidikan Indonesia 1: Ketika Kognisi Terlalu Mendominasi

“sekarang indonesia ini makin banyak orang pandai, tapi kenapa ya kok malah banyak kerusuhan dan kekacauan?” sebuah pertanyaan dari seorang senior untuk mengawali sebuah diskusi kecil tentang peran pendidikan dalam pembangunan masyarakat. Pertanyaan itulah yang kemudian membutuhkan serangkaian kajian masalah dan juga alternatif pemecahan yang seharusnya bukan sekedar teori ideal semu yang seringkali terkesan utopis.

in my opinion, salah satu penyebab ketidak mampuan sistem bpendidikan kita menghasilkan lulusan yang bukan hanya pandai tapi juga berbudi adalah sistem penilaian yang kita gunakan! dimulai dari tujuan penilaian, instrumen penilaiannya sampai dengan mekanisme pelaporannya.

dari segi tujuan penilaian, sejarah panjang pendidikan indonesia telah mengajarkan bahwa nilai keberhasilan para peserta didik akan lebih banyak dipengaruhi oleh seberapa bisa mereka bisa menjawab pertanyaan ujian yang dia jukan oleh guru. lebih dari lima dekade, kecenderungan penilaian hanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. aspek-aspek penting seperti afektif tidak banyak dijamah atau bahkan nyaris tidak tersentuh, kalupun ada nilai afektif yang diberikan maka tidak lebih dari sekedar pemanis dan pelengkap raport saja. parahnya, nilai afektif ini hanya diberikan oleh guru agama atau PKn saja! dengan kerangka berpikir seperti ini, tidak mengherankan jika  muridpun akan cenderung fokus untuk mencapai nilai kognisi yang baik daripada belajar menata sikap. demikian halnya dengan orangtua, mereka akan berlomba-lomba untuk mengupayakan agar sang anak bisa mendapatkan nilai yang bagus. le privat, BIMBEL di lembaga-lembaga ternama dengan menghabiskan dana jutaan rupiahpun rela mereka gelontorkan agar anak mereka bisa menjawab pertanyaan ujian dengan baik atau kalau bisa mendapat nilai sempurna! sebuah disorientasi tujuan pendidikan yang bersumber dari dominasi penilaian kognitif..sungguh primitif!

dari segi instrumen penilaian, kita mungkin dengan mudah menemukan contoh-contoh alat penilaian yang hanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. ratusan atau bahkan ribuan buku akan dengan gamblang memberikan detail cara penilaian yang baik dan sistematis. belum lagi seminar-atau workshop yang melatih guru untuk terampil membuat soal dan ujian untu siswanya. namun, berapa buku yang dengan jelas mengupas teknik penilaian sikap yang bisa dilakukan oleh guru untuk mengukur seberapa positif perubahan sikap yang ditunjukan anak setelah megikuti pelajaran?

kecenderungan untuk menonjolkan aspek kognisi juga terlihat pada mekanisme palaporan hasil belajar anak. ketika seorang siswa mendapatkan nilai 10 untuk pelajaran Matematika, maka bisa di asumsikan bahwa anak tersebut mendapatkan nilai sempurna dalam UTS, UAS, dan juga tugas2 yang bersifat kognitif lainnya. tidak ada interpretasi bahwa sang anak yang mendapat nilai sepuluh itu juga sempurna dalam menerapkan nilai-nilai konsep matematika dalam bersikap (contoh: menjadi anak yang displin dan tepat waktu karena matematika telah mengajarkan dia untuk selalu tepat dalam menghitung)

in summary, penilaian yang selama ini banyak dilakukan oleh para teachers, diakui atau tidak, masih menempatkan kognisi pada porsi yang lebih bear dibandingkan dengan aspek  yang lain. salah satu alasan mengapa aspek afektif menjadi kurang diperhaikan mungkin disebabkan belum banyaknya metode-merode pengukuran hasil belajar siswa yang bersifat afektif. bila guru terus menerus menyajikan laporan penilaian dengan kognisi yang mendominasi, maka tidak heran jika semakin banyak sarjana yang hanya pandai berteori tapi cacat dalam beretika dan bersikap!

punya cara efektif untuk membangun anak didik secara holisik (kognisi dan afeksi)?

share with me….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *