Site Overlay

STEM (Science, Technology, Engineering, Math): Latah pendidikan kesekian kali

Belum lama ini ada sebagian kelompok guru yang dengan gencarnya mempromosikan sebuah pendekatan kurikulum integral yang disebut STEM. Ide besar dari STEM ini adalah mengintegrasikan 4 bidang utama dalam semua mata pelajaran yang ada di sekolah atau sebaliknya menjadikan semua matapelajaran sebagai penopang 4 “mata pelajaran” utamanya yaitu science, technology, engineering, math.

Sejauh yang penulis bisa telusuri, STEM adalah kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan di Amerika untuk memenuhi kebutuhan SDM mereka pada aspek STEM ini.

Sekilas tidak ada yang salah dengan pendekatan ini. semua juga pasti sepakat jika keempat hal ini penting untuk dikuasai oleh anak didik kita sebagai modal utama menghadapi persaingan global. Tapi kalau kita sedikit mendalami ihwal awal kenapa kurikulum STEM ini dilahirkan, maka kita akan mendapati banyak sekali latar belakang kondisi yang jauh berbeda dengan negara kita.

Analisa konteks yang melatarbelakangi STEM ini, menurut saya, sangat spesifik pada pemenuhan kebutuhan generasi bangsa Amerika yang ingin mengembalikan antusiasme pemuda nya untuk menekuni 4 bidang ilmu yang mereka anggap sebagai dasar kemajuan negara mereka! ingat….kebutuhan negara mereka! bukan kebutuhan mendesak bagi negara kita Indonesia!

STEM bagi negara Amerika adalah upaya untuk “menarik lagi” minat rakyat milenialnya untuk terjun ke dunia 4 bidang itu. Dengan kata lain, mereka tidak sedang membangun dari nol semua perangkat STEM yang mereka usung….it was there and they just try to put it back! Sangat jauh berbeda dengan negara Indonesi ini yang harus membangun dari nol semua alat kelengkapan STEM ini jika memang benar-benar mau menerapkanya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kurikulum ini adalah produk asing yang perlu dicurigai dan bla bla bla….yang sedang saya tekankan adalah pada perbedaan konteks mereka dan kita! satu pendekatan yang particular tidak serta merta bisa menjadi generik karena ini berasal dari negara maju. Sesuatu yang dikembangkan untuk mengatasi masalah mereka tidak serta merta manjur untuk masalah kita. Yang harus dan mesti benar-benar dilakukan adalah mengkaji aspek STEM apa yang mungkin bisa bermanfaat bagi kita dan mana yang harus kita modifikasi lalu menguji cobakanya pada kalangan terbatas dan kemudian berusa mereplikasi prosesnya pada scope yang lebih luas…baru kemudian didesiminasikan secara nasional.

Tapi ya gitu, lucunya ada sekelompok orang yang seperti sangat bernafsu ingin menasionalisasikan STEM ini dalam sistem pendidikan kita. Semangat besar yang terkesan membabi buta! “coding harus masuk kurikulum kita!” What? coding? wajib? kita?…well begini lho mas, pak, bu…kurikulum nasional itu, yang saya tahu, adalah kurikulum minimal yang wajib dilaksanakan oleh penjuru negeri. Jika coding jadi skill wajib untuk peserta didik kita, it means dari sabang sampai merauke (kecuali timor-timor) semua sekolah harus menerapkan item ini. Gagal menerapkanya berarti tidak taat pada mutu minima kurikulum yang diamanatkan. Gak kebayang bagaimana sekolah-sekolah yang berada di lereng gunung Wilis mesti pontang panting memfasilitasi mapel coding ini…lha wong untuk UNBK saja mereka mesti mengungsi ke sekolah lain dengan biaya operasional yang bikin ngos-ngos an kok!

Insersi atau Integrasi coding dalam kurikulum itu hanya sebagian kecil dari kegagalan para pengusung STEM ini dalam memahami konteks kurikulum. Saya membayangkan kengotot an mereka seperti anak kecil yang baru sajamelihat mainan canggih yang menarik lalu berteriak histeris kepada bapaknya dan berkata “Pak!…aku kepingin mainan itu SEKARANG!”…Bapaknya cuma diam dan salah tingkah karena polah anaknya yang memang gak bisa mikir banyak itu.

Semangat pegiat STEM yang membara itu sudah bagus…tapi jangan dikotori oleh segelintir orang yang bernafsu dan membabi buta untuk mendorongnya menjadi kebijakan nasional. Membabi bisa jadi berbahaya…pun demikian membuta….Tapi membabi buta sudah PASTI berbahaya!

Terinspirasi boleh, latah jangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *