Tahukah anda berapakali saya mendapatkan tautan tentang kehebatan sistem pendidikan Finlandia (SPF)? Puluhan kali…dan bahkan mungkin lebih dari itu.
Secara garis besar, mereka yang membagikan tautan ini merasa bahwa pendidikan ala Finland adalah sistem terbaik yang pernah ada dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan di negara ini digambarkan sebagai lembaga independen yang dengan sangat luarbiasa karena telah berhasil mendidik anak murid mereka. Dengan jumlah jam belajar sekolah yang minimal, desain pembelajaran yang menarik, dan program pengembangan guru yang baik seakan menjadi resep mujarab untuk melawan penyakit kebodohan.
Terus terang saya tidak semudah itu diyakinkan akan kedigdayaan SPF ini. boleh dibilang saya adalah tipikal orang yang tidak mudah terbujuk, bapakku bilang “ora gampang gumunan”.
Ada beberapa hal yang membuat saya berpikir ulang tentang superioritas SPF ini. pertama, SPF memberikan waktu belajar 4-5 jam (kalau tidak salah…he2). Itu artinya sekolah hanya mendapatkan porsi waktu yang tidak lebih besar daripada kegiatan mereka di luar sekolah. Dengan asumsi ini, sebenarnya anak-anak Finlandia tidak ‘benar-benar’ belajar di sekolahnya. Mereka lebih banyak ‘bersekolah’ diluar lembaga pendidikan formal yang tersedia. Fakta ini juga secara implisit meyiratkan betapa masyarakat dan orangtua-lah yang sebenarnya berperan menggodok anak-anak Finland ini. Merekalah yang senantiasa mendampingi dan membantu anak didik berproses. Lah…terus guru nya ngapain ya? ya…mungkin mereka berperan sebagai manager pendidikan yang merancang program pendidikan, mengatur menu-menunya, dan menyiapkan SOP yang bisa digunakan anak didik beserta orantua mereka untuk mencapai ‘learning goal’ tertentu. Jadi, jika ada orang yang berteriak “tuh..lihat orang Finlandia…..dengan jam belajar yang sedikit saja sudah bisa menghasilkan anakpinter” boleh dibilang orang seperti ini menderita penyakit latah yang semoga temporer dan lekas sembuh. Seperti yang saya bilang, bisa jadi jam yang sedikit itu menjadi efektif karena peran aktif dari orangtua, masyarakat, dan juga peraturan pemerintahnya ikut juga mendukung. Kalau di negara kita?….eiiiits…tunggu dulu kawan….
Hal menarik selanjutnya adalah tentang teacher development alias pengembangan guru. Dengar-dengar negara ini termasuk satu dari sekian negara yang benar-benar mengerti akan makna dan pentingnya ‘peran’ guru. Negara tidak segan menggelontorkan jutaan dollar untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar nya. Lho…kan negara kita juag menyediakan dana peningkatan kualitas melalui Tunjangan Profesi Pendik (TPP), beasiswa, dan diklat2 ampuh bin super ala Mario tidak teguh?……hmmmm gimana ya? kalau soal ini saya ndak terlalu paham karena saking banyaknya faktor yang membuat program teacher development kita terkesan jalan ditempat…atau bahkan diam dan tidur di tempat! Contoh kecil saja, apakah anda pernah mendengar kata MGMP? bagi anda yang bukan berprofesi guru bisa jadi saya maklum jika panjenengan semua tidak familiar dengan kata ini. Namun bagi Anda yang terlanjur menjadi guru dan tidak mengenal kata ini,…..sebaiknya anda segera meminta maaf kepada Bang Rhoma…karena anda sungguh terrrrlaaaaaaluuuuu. Forum MGMP ini idealnya adalah sebuah forum diskusi akademik antar guru dalam satu rumpun mata pelajaran yang salahsatu tujuanya adalah peningkatan kompetensi keguruan. Sayangnya, tidak banyak guru yang mau terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh forum ini. Sebagian beralasan karena kegiatanya hanya ‘begitu-begitu’ saja, dan sebagian yang lain bahkan lupa apa kepanjangan dari MGMP itu sendiri…..he2. Pendek kata, Saya kok ingin tahu juga ya…apakah di negara Finlandia itu ada forum semcam MGMP ini? kalau ia terus bagaimana pengelolaanya? apa saja kegiatanya?
Perbedaan-perbedaan semacam ini tentu menjadi bahan pertimbangan sebelum kita ikut-ikutan teriak ‘hooe….ini lho sistem bagus’. SPF memang terbukti bagus buat Finlandia tapi belum tentu untuk negara tercinta ini……ya…memang banyak yang bisa dan harus dipelajari dari mereka. Kalau pun ada kesempatan….Aku pun ingin ke Finlandia. Ingin ku lihat sendiri bagaimana mereka berproses…saat masa itu tiba…baru kita bicarakan lagi tentang pendidikan Finlandia…