Bagi teman-teman yang sudah PLPG tentu sudah gak asing lagi dengan “RPP berkarakter”. Bentuk baru alias terkini dari RPP sebelumnya. Para penggagas dan pembina RPP model ini berargumen jika bentuk termutakhir ini (menurut mereka…he3) adalah jawaban dari kekisruhan dan kemerosotan karakter bangsa dewasa ini. mereka merasa perlu untuk “mencantumkan” nilai karakter dalam setiap mata pelajaran.
Ada sedikit diskusi kecil dengan seorang teman terkait masalah ini. diskusi di sore itu diawali dengan sebuah pertanyaan dariku “apakah perlu kita mencantumkan aspek karakter pada RPP?. Dengan semangat 45 temanku menjawab “ya”. dia beralasan jika penulisan nilai karakter yang ingin dikembang dalam RPP sangat perlu dilakukan. setidaknya dia memberikan 2 alasan yang menurutku cerdas.
1. Dengan dicantumkannya nilai karakter di RPP maka akan bisa mengingatkan sang guru saat akan mengajar.
2. Nilai karakter akan lebih terukur ketercapaiannya (dengan asumsi sang guru menyiapkan observasi atas ketercapaian nilai karakternya).
Hmmm…mantap tenan. gak rugi dia ikut pelatihan pengyusunan RPP ratusan bahkan ribuan kali…so detail…he2. dua alasan itu benar-benar terdengar menyejukkan dan MENJANJIKAN. pada awalnya aku sepakat dengan apa yang dia kemukakan. tapi…setelah melihat lebih dalam lagi, pencantuman karakter itu terdengar (atau mungkin terlihat ya…ha2) seperti “labelisasi” saja. tidak efisien (makan waktu dan biaya). “kok bisa…?” tanya temanku.
akupun mulai beranalogi dengan sebuah pengalaman klasik tipikal orang jawa. saat itu aku berkendara naik sepeda motor menuju ke kampus. ditengah jalan, ternyata sepeda motorku ban nya kempes. roda sepeda motorku meliuk2 tak karuan karena sudah tidak ada lagi angin dalm ban yang bisa menyeimbangkannya. aku berhenti sejenak, menunduk kemudian melihatnya. “kempes” dan tidak menggelembung seperti biasanya. kedua tanganku terjulur lalu memencet ban yang sudah kempes itu untuk mamastikan dia benar2 kempes.
itulah tipikal jawa (mungkin juga indonesia) “tidak efisien”. coba bayangkan, sudah tau (melihat) ban nya kempes, masih saja merasa perlu untuk memencetnya!
Sama dengan penyusunan RPP berkarakter ini. Sudah jelas jika aktivitas group work pasti akan melatih anak bekerjasama, tapi masih pelu menuliskan group work : nilai karakter “bekerjasama’ sungguh jadi sia-sia dan menghabiskan banyak kertas print! apakah aku harus menuliskan label “sepeda motor” di sepeda motorku untuk membuat diriku dan orang lain tau kalau benda “ini” adalah sepeda motor? apakah aku harus menuliskan “label–label” yang lain atas sesuatu yang sudah jelas?
Temanku tersenyum, aku tidak tau apakah dia setuju atau masih menyimpan argumen lain, yang pasti setelah tegukan terakhir kopi yang aku sajikan, dia berpamitan karena ada family business yang harus dia tunaikan.
can’t wait another day to discuss…….