Dalam sebuah hadist Baginda Rasulullah telah mengingatkan kepada kita semua bahwa “tidak akan datang suatu tahun kepada kita kecuali tahun berikutnya itu lebih buruk daripada tahun sebelumnya”.
hadist ini mengingatkan betapa tantangan untuk menjadi manusia baik (paripurna) akan semakin berat.
Variabel tantangan tersebut boleh jadi bertambah atau berevolusi gaya dan bentuknya. Jika zaman ayah ibu kita dulu tidak pernah bersinggungan dengan parahnya pergaulan dunia maya, maka kita, anak didik kita dan generasi selanjutnya adalah bagian integral dari “borderless world’ ini. Jika para orangtua dulu menunggu koran esok pagi untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia lain, maka kita dan generasi sekarang hanya butuh hitungan detik untuk bisa mengakses semua hal. dengan kata lain hari ini kita sedang di hadapkan pada “rapid information era” yang dengan segala kelebihannya tersisip juga potensi virus yang bisa menggerogoti semua sendi kehidupan manusia…termasuk keberadaban kita sebagai manusia.
Sebagian besar dari kita tentu sepakat jika hari ini generasi kita sedang mengalami “adab disorder” sebuah penyakit yang mengakibatkan penderitanya menjadi kehilangan orientasi keberadaban dalam dirinya. Secara teknis, si penderita sudah mulai gamang “penglihatannya” sehingga dia akan kesulitan untuk membedakan mana adab yang baik dan mana adab yang kurang baik. Parahnya, pada stadium lanjut si penderita akan mengalami gangguan “waham kebenaran” dimana dia menganggap hal-hal keliru yang dia lakukan adalah kebenaran yang wajar untuk dilakukan atau bahkan disebarkan. Dan disadari atau tidak, semua itu disebabkan oleh virus-virus yang menyisip dalam rapid information era ini
Ditengah badai penyakit “adab disorder” ini angin segar mulai ditiupkan oleh pemerintah melalui kemendiknas dengan rancangan pendidikan adab (karakter) yang mulai di galakkan. Bahkan (hal ini membuat saya senang sekali) pemerintah dalam rancangan kurikulum 2013 ini menambah kuota jam Pendidikan agama pada beberapa level pendidikan kita. Tentu apresiasi layak kita berikan dalam hal ini, namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa menggunakan “jam tambahan” yang telah diwajibkan oleh pemerintah dengan efektif. Karena kuantitas (jam yang banyak) jika tidak dibarengi dengan kualitas (metode pembelajaran n evaluasi) yang mumpuni tentu akan menjadi PERCUM TAK BERGUN.
Nah, sekarang marilah kita coba simak dan diskusikan dua pertanyaan berikut untuk menjadikan angin perubahan dalam dunia pendidikan kita ini tidak malah bikin kita masuk angin:
1. Bagaimana metode mengajarkan adab yang baik yang bisa membuat anak didik kita menjadi manusia yang beradab mulia?
2. Sistem penilaian seperti apa yang paling cocok untuk memantau perkembangan adab anak didik kita?
(he2…ini bukan PTK lho…)
(bersambung)