Site Overlay

GURU: Sebuah Pengabdian, Sebuah Panggilan Jiwa

“Selamat datang di sekolah kami ustad ustadzah sekalian. Selamat majadi pemilik dari lembaga pendidikan kami. Disini kami tidak pernah menerima karyawan, tapi pemilik lembaga ini. Jika kami harus membayar setiap apa yang bapak ibu lakukan, maka kami tidak akan pernah mampu membalas kemuliaan ustad ustadzah sekalian sebagai guru”

Sepenggal kalimat itu adalah pesan ucapan selamat datang pertama yang terus saya kenang sampai sekarang. Pesan yang disampaikan senior saya, sahabat saya dalam dakwah pendidikan ini. Bagi saya, pesan ini menyiratkan pesan mendalam dalam memaknai peran saya sebagai guru dalam sebuah lembaga dakwah yang memilih jalur pendidikan pendidikan sebagai jalan syiarnya.

Sebagai bagian dari gawe besar dakwah pendidikan, hal utama yang harus dimiliki seorang guru adalah rasa memiliki dan mencintai apa yang dia miliki yaitu mendidik dan belajar mendidik anak-anak. Keberadaanya bukan seperti sebagian karyawan yang pikiran dan konsentrasinya adalah bekerja dan menunggu “tanggal muda”. Tanpa rasa memiliki dan mencintai apa yang dimiliki sulit kiranya bagi seorang karyawan untuk bisa ber-inovasi dalam pekerjaanya. Demikian halnya seorang guru, jika ia merasa pendidikan adalah jalur perjuanganya tentu dia akan dengan senang hati memberikan tenaga dan pikiran maksimalnya untuk keberhasilan pendidikan tanpa merisaukan seberapa tebal amplop yang akan dia terima.

Sedari awal seorang guru harus memahami bahwa hakikat guru bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan. Saya lebih senang memaknainya sebagai sebuah pengabdian atau panggilan. Berbeda dengan makana profesi yang menyiratkan konsekuensi material yang akan diterima atas profesinya, pemaknaan guru sebagai pengabdian lebih menitikberatkan kepada dedikasi dan kesungguhan mewujudkan perubahan dengan mengesampingkan hal-hal lain diluar pengajaran, termasuk masalah bertambahnya rekening di akhir bulan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa seorang guru tidak boleh berharap akan kesejahteraan dari pengabdianya, namun saya tidak ingin mereka yang sudah memilih guru sebagai panggilan hatinya akan terdeviasi dari jalur pengabdianya hanya karena masalah tumpukan rupiah di awal bulan.

Saya tidak bisa membayangkan jika orientasi keguruan semakin menyimpang mengarah menuju pragmatism profesi sebagimana yang jamak kita lihat di masyarakat. Kecederungan sikap transaksional “wani piro” dalam melakukan pekerjaan sebaiknya tetap menjadi domain profesi bukan pengabdian. Seorang guru sejati tentu tidak akan mengendurkan semangat atau mengurangi kinerjanya hanya karena keterlambatan transfer ke rekeningnya. Dalam konteks dakwah pendidikan, ganjaran yang dia harapkan di akhir perjuangannya sebagai guru bukan sesederhana dinar atau dirham tapi satu perasaan bahagia karena bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain?

Kalau kita mau bernostalgia dengan sejarah guru dalam dunia pendidikan, kita bisa belajar banyak dari pendahulu kita yang benar-benar merasa memiliki dan mencintai dunia keguruan. Salah satu teladan yang bisa kita jadikan inspirasi adalah apa yang dilakukan KH. Ahmad Umar Abdul Manan, pengasuh pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan Solo. Seorang teman mengririmkan kisah beliau melalui WA saya di hari guru November kemarin. Dalam sebuah kesempatan, kiai Ahmad memanggil lurah pondok dan memintanya untuk mencatatkan nama 10 santri ternakal yang ada di pondok. Beliau meminta anak ternakal di tuliskan di nomor 1 kemudian berturut turut samapai anak “agak nakal” di urutan terakhir. Sang lurah pondok merasa senang membayangkan kesepuluh anak itu akan dipanggil dan diberikan takzir. Segera dia menuliskan sepuluh santri nakal yang sering bermasalah di pondok. Namun, setelah berhari, berminggu ditunggu tak satupun dari sepuluh anak itu di takzir, bahkan dipanggil pun tidak. Akhirnya sang lurah pondok memberanikan diri bertanya kepada beliau kenapa tidak satupun dari mereka yang di beri sanksi atau di panggil menghadap. Dengan lembut sang kiai menjelaskan bahwa beliau meminta daftar nama santri nakal itu bukan untuk di takzir atau diusir dari pondok. Namun, beliau ingin mendoakan secara khusus kepada 10 santri nakal itu setiap selesai sholat tahajjud beliau. Subhanallah….saya tidak bisa berkata apa apa selain bergumam kagum atas dedikasi, keikhlasan, dan ketulusan beliau dalam mendidik santri nya.

Sungguh benar apa yang disamapaikan sahabat saya diawal kebersamaan saya di perjuangan dakwah pendidikan ini. Kecintaan kita dan rasa memiliki yang kita tanam terhadap pendidikan akan mendorong kita melakukan hal-hal luar biasa dalam usaha pendidikan ini. Jika kita nilai setiap tindakan kita sebagai guru dengan dinar atau dirham, berapa ratus atau ribu dinar untuk membalas ketulusan seorang guru sebagai mana yang dicontohkan Kiai Ahmad?

Setelah beberapa tahun berlalu, kisah dari Kiai Ahmad ini membuat saya memahami makna kalimat terakhir yang disampaikan senior saya, sahabat saya dalam dakwah pendidikan ini Jika kami harus membayar setiap apa yang bapak ibu lakukan, maka kami tidak akan pernah mampu membalas kemuliaan ustad ustadzah sekalian sebagai guru. Tidak ada benda atau kekayaan dunia ini yang layak untuk menghargai ketulusan guru selain ganjaran dari sang Khaliq, Allah subhanahuwata’ala. Semoga kita bisa terus berjuang dan belajar untuk menjadi guru yang lebih baik…Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *