Sebuah kesempatan berharga membawa saya berpetualang dan bertemu orang orag baru, budaya baru, dan kenyataan kenyataan baru. Selepas kaki ini menjejak tanah negeri orang, belum juga mandi, belum juga ganti baju, my professor mengajak kami jalan jalan mengitari jantung kota negeri ini, menuju kantong-kantong tempat berkumpulnya saudara setanah air yang mengadu nasib di negeri ini, Paya Lebar.Tidak sulit mengenali wajah-wajah indonesia di sini. Just like me…wajah murah senyum dengan guratan ‘ndeso’ seperti saya. Bergerombol mereka berbincang santai sambil sesekali tertawa renyah. Tawa ceria ala indonesia yang menggambarkan betapa bahagianya mereka bisa berkumpul dengan saudara se kampung, setanah air. Perasaan senang itu juga melanda saya saat bertemu mereka. “wah enek koncone’ kataku dalam hati. Segera saja saya mendekat dan mencoba berbincang dengan mereka. Mbak wati namanya, pekerja asal pekalongan yang sudah lama menetap di sini. Di sini dialah salah satu ‘senior’ bagi para pekerja sektor informal yang berasal dari indonesia. Dari beliau juga saya mendapatkan sekelumit cerita tentang saudara indonesia saya yang bekerja di negeri pak lee ini.Ada tiga karakter utama yang bisa saya simpulkan dari cerita singkat mbak wati tentang pekerja indonesia di sini. Mereka dianggap sebagai pekerja yang ramah, ulet, namun agak kurang well-educated. Dua hal pertama cukup mewakili kita sebagai bangsa…kita adalah bangsa yang ramah dan ulet…namun….ahhh…untuk poin ketiga…sepertinya agak kurang pas jika semua pekerja indonesia is kurang berpendidikan. Kalau dibilang banyak yang begitu mungkin saja benar….tapi saya yakin tidak semuanya begitu.Datang sebagai perwakilan guru indonesia, fakta bahwa orang-orang indonesia dianggap kurang berpendidikan adalah sebuah tamparan yang sangat keras…plakkk..just right on the face. seketika itu juga pertanyaan seperti “lah…selama ini, apa yang pendidikan indonesia tawarkan kepada orang-orang ini?” “kenapa pendidikan yang telah mereka terima tidak cukup untuk mengangkat harkat atau setidaknya bargaining position mereka?” mulai bermunculan. Ternyata…masih banyak yang perlu dilakukan untuk betul-betul mewujudkan bangsa yang bermartabat melalui jalur pendidikan. At this point, saya teringat sebuah ayat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Sungguh saya menyaksikan sendiri bagaimana “ilmu” bisa menjadi pembeda dalam kehidupan para pekerja di sini. Bagi mereka yang berilmu, mereka akan mendapatkan penghargaan yang berbeda di mata masyarakat. Sebaliknya, tanpa ilmu yang cukup, mereka akan tersingkir dan terpinggirkan…So? tidak ada pilihan lain bagi kita, guru, selain berjuang dan bekerja keras agar generasi kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat bukan hanya untuk kehidupan mereka namun Ilmu yang juga bisa memuliakan mereka hari ini dan kelak di kehidupan yang akan datang.