Site Overlay

Catatan pendidikan indonesia 5: belajar banyak atau banyak belajar?

membicarakan pendidikan di indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. berbanding lurus dengan fenomena atau lebih tepatnya anomali perkembangan pendidikan di negara tercinta ini, diskusi mengenai pendidikan selalu menjadi hal yang hangat n layak untuk diperbincangkan (iklan silet mode on: gaya fenni rose)

kalau kita perhatikan, akhir-akhir ini tentu kita sering melihat adik, saudara, atau tetangga kita yang masih usia sekolah terlihat super sibuk dengan berbagai agenda sekolahnya. berangkat pagi n pulang sore persis para pekerja kantoran ibukota. tidak ketinggalan, tas “super besar” selalu menggelayut di punggung. dalam hati aku bertanya “gek cah SD gowo tas sak mono gedene iku di iseni opo?”.

Di kemudian hari, pertanyaan ku pun terjawab. setelah keponakanku bersekolah di SD. aku lihat sendiri di memasukkan seabrek buku kedalam tas “super besar” nya. lebih dari 10 macam buku yang dia bawa hari itu. “banyak sekali pelajaran yang akan dia hadai hari ini,” pikirku.

syndrom TMTH (Too Much To Handle) sepertinya mulai mengakar di dunia pendidikan kita ini. bayangkan, seorang anak SD suda harus mempelajari terlalu banyak materi di usia belianya. entah berapa banyak target materi dari sekolah yang harus mereka selesaikan. tidak cukup hanya target “wajib” dari pemerintah, setiap sekolah berlomba menjejali murid belia ini dengan bermacam pelajaran tambahan. persis dengan ibu-ibu gila belanja yang sedang di Mall, para pemangku sekolah itu main comot dan memasukkan semua program yang mereka anggap baik tanpa satu pertimbangan yang cerdas (bahkan seringkali hanya karena ikut-ikutan tren!).

background pemilihan suatu program tentu harus memperhatikan SWOT yang sekolah miliki. analisa SWOT ini tentu harus dilakukan secara menyeluruh bukan hanya dari perspektif lembaga sekolah, tapi juga dari perspektif siswa. namaun, seringkali kebijakan sebuah program tambahan di sekolah hanya dilandaskan pada perspektif sekolah saja. atas nama mengikuti tren, agar terlihat modern, agar bisa bersaing dengan sekolah lain, agar berbeda dengan yang lain, dll….adalah beberapa alasan yang mengemuka. alasan-alasan seperti inilah yang bila tidak hati-hati akan menjebak kita kedalam kapitalisasi pendidikan (menjadikan pendidikan sebagai komoditi dagang dan mencari keuntungan)….na’udzubillah min dzalik.

sekali lagi need assessment sebuah program harus melibatkan analisa terhadap siswa sebagai subjek dari program yang nanti akan dilakukan. kita harus melihat semua hal baik dari segi kemampuan fisik, kemampuan daya pikir (input), faktor psikologis, dll.

pentingnya penguasaan dan juga perhatian kita akan kebutuhan, keadaan, dan kemampuan anak didik kita sebelum memutuskan suatu program, sama seperti penting nya dengan seorang pengemudi bus yang tidak hanya mengemudi sesuka hatinya (asalkan samapai tujuan) tapi juga harus memperhatikan keselamatan penumpangnya. sebagai driver, pengelola sebuah lembaga sekolah harus benar-benar membuat para penumpang (siswa) merasa aman dan nyaman. meskipun mereka sama-sama menuju kearah yang sama, tidak elok jika sang sopir berlaku ugal-ugalan dengan bermanuver sekehendak hatinya tanpa memperdulikan nasib yang duduk dibelakang.

nah…bila kita sudah memperhatikan semua pertimbangan tersebut, maka diharapkan muncul lah program kegiatan yang memang tepat guna, efektif dan tidak boros waktu dan anggaran. tidak ada lagi terlalu program populis yang hanya akan memberatkan beban belajar siswa. kita, sebagai sopir pendidikan tidak perlu melakukan terlalu banyak manuver (program belajar) yang tidak perlu. karena manuver yang berlebihan hanya akan membuat penumpang (siswa) kita menjadi pusing, mabok, lalu muntah-muntah. walaupun mereka (mungkin) berhasil sampai tujuan, mereka akan mengingat betapa ugal-ugalanya kita saat mengantarkan mereka, betapa mengerikannya perjalanan yang telah mereka lalui, dan betapa tersiksanya mereka selama perjalanan…..dan mungkin saat ini-jauh setelah mereka sampai tujuan- mereka masih merasakan efek mabok atau trauma perjalanan yang kita sebabkan…nah..lo…gimana hayo?

pepatah “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” mungkin bisa sedikit memberikan pencerahan bagi kita yang selama ini inging “segera” sampai pada tujuan pendidikan dengan “ngebut dan bernuver liar tak terukur”. tidak usahlah kita terlalu bersemangat dengan menambah mata pelajaran yang seabrek agar anak kita bisa ini dan itu (tanpa memperhatikan aspek anak).

belajar banyak atau banyak belajar? hendaknya kita harus bisa dengan bijaksana memilih diantara keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *