Tak terasa hari ini dunia pendidikan indonesia sudah seminggu sejak masa rawan pendidikan nasional. hari ini para pelaku pendidikan berbondong-bondong memadati lapangan kecamatan untuk berama-sama memeriahkan peringatan hari pendidikan nasional.
seperti peringatan hari pendidikan nasional tahun lalu, hari ini pun terik matahari ikut memanaskan obrolan antar guru, siswa dan beberapa pejabat pendidikan sesaat sebelum upacara berlangsung. seperti tahun lalu juga, materi perbincangan itu juga tidak terlalu banyak berubah. sang guru asyik membicarakan tentang dana sertifikasi yang akan segera turun awal bulan ini, sang murid saling berbagi kisah “perjuangan” mereka melawati MARWAN (masa rawan nasional), dan entah apa yang dibicarakan oleh para pejabat pendidikan itu…seperti tahun lalu…aku masih tidak tahu apa yang membuat para pejabat itu tertawa kecil dan girang.
ya…apapun alasan mereka untuk bisa tersenyum hari ini adalah hak mereka dan sah-sah saja. tapi hari ini, saat kita memperingati hari pendidikan, sudah sepantasnya bagi semua pelaku pendidikan untuk sedikit merenung dan mengevaluasi diri. mencoba melihat lebih jernih dan tenang terhadap berbagai hal yang seharusnya dilakukan namun tidak dilakukan.hal hal yang mungkin dianggap kecil namun sangat signifikan dampaknya pada dunia pendidikan indonesia…hmmm kira-kira apa ya???
AHAAA…sepertinya aku ada ide!…PENILAIAN…itu yang sekarang harus menjadi fokus kita…setelah serangkaian ujian yang memberondong anak didik, tentu hari ini adalah saat yang teoat untuk sedikit mengulik tentang bagaimana kita memberikan nilai kepada anak didik kita!
setiap kali sebelum menghadapai ujian kita tentu sering mengingatkan kepada anak didik kita untuk berlaku jujur selam ujian. tidak boleh mencontek, atau berperilaku curang lainnya. dengan semangat yang menggebu-gebu, kita tidak segan menindak mereka yang terbukti melanggar prinsip kejujuran dalam ujian. skorsing, nilai nol, dan pengusiran adalah hukuman yang seringkali kita berlakukan mereka yang tidak taat aturan.
mengingat betapa ketat aturan yang kita buat untuk murid kita, maka sangat wajar dan berkeadilan jika peraturan mengenai penilaian juga harus dibuat setara. peraturan mendasar dari penialaian yang dilakukan guru = peraturan ujian…KEJUJURAN!…yapz…itu adalah harga mati yang seharusnya tidak bisa ditawar!,betul?
lalu apa yang dimaksud dengan jujur saar memberikan nilai?…say it 6 when it is 6, and say it 9 when it is 9. pemberian nilai yang jujur adalah akurasi dari nilai yang berikan. ketika kita menuliskan nilai 6, maka kita bertanggung jawab akan kemampuan (kompetensi) sang anak adalah tidak jauh dari 6. begitu pula jika kita memberikan 9, maka kemampuan sang anak adalah sekitar 9.
dalam proses penilaian pun guru harus benar-benar bisa menjaga obyektifitas dirinya sebagai rater. faktor-faktor pengganggu (confounding variables….he2…jadi ingat ma prof. adnan latief) harus benar benar bisa dikontrol sehingga tidak meracuni nilai akhir yag kita berikan kepada siswa. tidak ada alasan bahwa sang anak adalah putra dari kepala sekolah sehingga kita harus memberi nilai lebih pada setiap ujian yang dia ikuti, bukan pula kebijaksanaan jika karena ibu dari sang siswa adalah orag yang pernah menyakiti kita dulu, kemudian kita memberikan nilai rendah pada setiap ujian yang dia kerjakan….singkat kata, kita tidak akan memberikan nilai yang berbeda dengan kemampuan sang anak apapun yang terjadi!!!…bahkan jika menteri pendidikan yang turun dan meminta kita (atau bahkan mengancam…he2) menaikkan nilai si siswa….tetap kekeh n bilang TIDAK!
kenapa?kok berani2 nya?…yapz…karena kita punya record nilai yang telah kita susun selama proses pembelajaran yang kita lakukan. orang lain (selain guru yang bersangkutan) hanya bisa menduga dan mengira tentang kemampuan seorang siswa..mereka bisa berkata “loh..si Jono itu kan anaknya pintar? masak dapat nilai jelek?”….tapi…kita memegang data! data yang transparan, yang bisa dicek oleh siapapun yang ragu dan ingin melakukan cross check terhadap nilai yang kita berikan….dengan kata lain..selama data penilaian selama proses penilaian yag kita lakukan adalah valid, maka seharus nya kita tidak perlu risau dengan asumsi-asumsi yang tidak jelas!