Entah sejak kapan sekolah-sekolah itu berpagar tembok dan besi yang tinggi. Sejauh yang bisa diingat, saat tahun 90an nyaris tidak ada satu sekolahpun yang berlindung dengan pagar sebegitu tingginya. Mungkin sekolah dengan pagar besi yang tinggi akan terlihat modern dan mewah. Namun, sepertinya ada nuansa perubahan sosial yang melatarbelkangi pemikiran pembuatan tembok sekolah ini.
Mari sejenak kita melongok kehidupan sekolah 20 tahun yang lalu, saat banyak sekolah yang tidak berpagar, tidak bersekat, dan tidak terpisah dari kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Saat itu, dengan mudah kita bisa melihat bagaimana anak-anak dengan riuh-riang belajar di sekolah. Tidak ada pagar penghalang pandangan terhadap segala aktifitas yang ada di sekolah. Sang guru, dengan rasa tenang mempersilahkan siswanya untuk menghambur ke luar area sekolah, menyerbu kantin atau penjaja makanan favorit mereka. Nyaris tidak ada rasa was-was atau ketakutan berlebih akan kemungkinan penculikan, kekerasan atau tindak criminal lain yang akan menimpa anak muridnya.
Fakta itu seakan menyiratkan betapa sekolah dan semua yang terlibat di dalamnya ada pada situasi saling percaya dan saling menjaga. Pihak sekolah sangat yakin bila mereka yang menjadi penjual di kantin adalah “guru” informal bagi anak muridnya. Mereka akan mengajarkan bagaimana seorang murid seharusnya bergau dalam masyarakat, mengajarkan nilai kejujuran dalam transaksi jual beli sederhana jajanan, mengajarkan kedisiplinan untuk menunggu giliran dalam antrian panjang kantin favorit, dan mengajarkan banyak lagi nilai kemasyarakatan yang sangat berguna bagi kehidupan anak murid saat ini dan juga yang akan datang. Memang, pihak sekolah juga mengajarkan nilai yang sama saat pembelajaran. Namun, apa yang dilakukan oleh masyarakat pedagang di lingkungan sekolah seakan memberikan afirmasi dari apa yang anak murid dapatkan di sekolah.
Ada sebuah kisah menarik yang menggambarkan bagaimana masyarakat sekolah dahulu pernah menjadi masyarakat pembelajar yang sangat membantu dalam pendidikan. Saat itu adalah jam pembelajaran olahraga. Satu pelajaran yang disukai hamper semua anak didik. Sang guru meminta anak muridnya untuk berlari melalui rute yang telah ditentukan sebagai pemanasan. Satu persatu anak murid berlari menempuh jarak yang lumayan melelahkan sesuai rute arahan sang guru. Seperti biasanya, sang guru akan berlari paling akhir sebagai “penyapu” dari rombongan lari pagi. Semua terlihat tertib dan disiplin pada 20 meter pertama sampai ada sekelompok anak yang mencoba “memotong kompas” dan melewati jalan alternative yang melanggar rute yang ditetapkan sang guru. Dengan tertawa cekikikan, sekelompok anak ini berjalan santai sambil terus berbincang puas tentang keberhasilan mereka menipu guru dan memperoleh keuntungan karenanya. Namun suara teguran keras membuyarkan kecriaan mereka. “Hei…kenapa kalian kok lewat sini?bukanya teman kalian tadi lewat jalan memutar sebelah sana? Ayo kembali….kalau tidak akan saya laporkan kepada pak guru kalian.” Dan kiranya siapa yang member teguran itu? Dia adalah salah satu warga masyarakat sekitar.
Sungguh, bentuk kepedulian masyarakat yang peka akan pendidikan seperti cerita diatas bukan hanya terjadi sekali atau dua kali. Bukan pula dulakukan oleh orang yang itu-itu saja. Akan tetapi hamper semua masyarakat terlibat aktif dalam mendidik, mengingatkan dan menanamkan nilai-nilai baik kepada anak murid di sekolah. Mereka seakan menjadi “pahar hidup” yang ikut serta melindungi anak-anak dari pengaruh atau tindakan negatif yang mengancam.
Namun sayang, pagar hidup ini mulai roboh satu persatu seiring perkembangan dan dinamika zaman. Pagar hidup yang dahulunya adalah benteng paling kokoh menjaga nilai luhur kemasyarakatan ini mulai rapuh dan malah sering dianggap menjadi ancaman bagi aktifitas pembelajaran di sekolah. Lambat laun, pihak sekolah mulai mengganti pagar hidup itu dengan tembok dan besi yang keras. Pihak sekolah sudah mulai putus ada dan kehilangan akal sehingga “penjara” tembok dan besi adalah pilihan terbaik yang bisa mereka pikirkan saat ini. Nyaris tidak ada lagi kepedualian dari keduanya. Semua berjalan masing-masing tanpa saling mendukung dikarenakan pragmatism kehidupan yang kian kuat menyelimuti pemikiran keduanya.
Bentuk pragmatisme yang paling Nampak adalah bagaimana anak murid sekolah seakan menjadi ladang bisnis empuk bagi oknum masyarakat yang lalai akan semangat “learning society”. Lahan bisnis seperti game center, warnet, Play Station dan bahkan warung kopi dengan mudah ditemukan di sekitar sekolah. Seolah berlomba menjemput bola, masing-masing pelaku usaha berusaha mendekatkan diri kepada pelanggan potensial mereka yaitu anak murid sekolah. Tidak peduli akan nilai pendidikan, oknum pelaku usaha seringkali tetap menerima dan melayani anak murid bahkan disaat jam sekolah. Tidak ada lagi teguran atau peringatan yang berarti kepada anak murid yang memanfaatkan tempat usaha mereka sebagai arena membolos.
Kian jauh dan renggangnya hubungan masyarakat dengan pihak sekolah mungkin mnjadi salahsatu factor besar yang menghambat dunia pendidikan. Keberadaan pagar tembok dan besi di sekolah seakan menegaskan jarak antara masyarakat dan sekolah. Kumunikasi antar kedua pihak harus segera dilakukan sebelum semua terlambat, sebelum anak murid yang menjadi korban dari ketidakpedulian dan kurangnya dukungan dari sekolah maupun masyarakat sekitar sekolah. Keberhasilan pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari pihak sekolah akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat. Semoga semua bisa bergandeng tangan mewujudkan cita-cita pendidikan karena sekolahku adalah sekolahmu, sekolah kita semua.